Jumat, 20 Februari 2026

Makan Gratis atau Pendidikan Kritis?

MBG (Makan Bergizi Gratis) itu kerasa kayak program konyol yang dipaksain cuma gara-gara ego pas kampanye dulu. Awalnya, rakyat pasti senang dong dapet makan gratis? Itu yang dipikirkan mereka. Karena bisa dibayangkan rasa kenyangnya, uang jajan jadi nggak diperlukan lagi, dan akhirnya mereka punya sisa uang untuk membeli kebutuhan yang lain.

Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Memang uang jajan nggak keluar sebanyak dulu, tapi efek dominonya ngeri. Kebijakan ini malah mematikan UMKM sekitar pasar terutama di sektor F&B. Gimana nggak? Siklus UMKM mati kutu karena para supplier bahan baku sekarang lebih milih jalur aman menyuplai dapur raksasa MBG daripada harus ribet diversifikasi ke pasar eceran. Ya lu nggak liat karena elu tinggal di kota dengan akses mudah, tapi bagi mereka yang tinggal di kampung dan pelaku usaha kecil, ini menjadi hal yang menyedihkan karena mereka kehabisan stok bahan baku.

Masalahnya nggak berhenti di situ. Program ini juga secara nggak langsung jadi karpet merah buat "hilirisasi" sawit yang dipaksain. Kebutuhan MBG yang masif otomatis bikin kebutuhan minyak goreng melonjak drastis. Ujung-ujungnya apa? Permintaan sawit naik, dan ini jadi alasan empuk buat ningkatin pembalakan liar demi membuka lahan sawit baru. Hutan kita yang jadi korban.

Dan kita hidup di Indonesia, Bos. Program segede gaban gini pasti punya birokrasi yang panjang dan ribet. Permainan birokrasi yang panjang ini bikin anggaran rentan banget sama korupsi. Dari titik A sampai ke titik D, potensi pemangkasan anggaran di tengah jalan oleh oknum itu gede banget.

Yang paling parah, sektor pendidikan yang kena getahnya. Secara nggak langsung, banyak tenaga pendidik (tendik) dan guru yang jadi korban. Mereka marah-marah saat ngajar dan kinerjanya jadi nggak maksimal akibat dipangkasnya gaji yang biasa mereka pakai untuk hidup harian. Kuota tendik dikurangi karena anggarannya dipangkas demi nutupin program MBG yang nyedot sampai sepertiga biaya pendidikan.

Kalau masih bingung saking ruwetnya masalah ini, mari kita ciutkan skalanya jadi urusan rumah tangga.

Bayangin ada satu keluarga. Kondisinya pas-pasan, token listrik di rumah udah bunyi tit... tit... tit..., dan atapnya bocor. Sang ibu lagi pusing mijit dahi, ngitungin sisa uang bulanan yang pas-pasan buat bayar SPP anak, beli buku cetak, dan bayar tunggakan gaji guru les.

Tiba-tiba, sang ayah pulang dengan gaya sok pahlawan bawa sekotak Bento Salmon Premium seharga ratusan ribu. Ibunya kaget, "Uang dari mana?!" Ternyata oh ternyata, si ayah baru aja nge-sunat uang SPP dan motong jatah gaji guru les anaknya demi beli itu bento.

Pas ibunya ngamuk sejadi-jadinya, "Bapak gila ya?! SPP nunggak, guru les nagih gaji, atap bocor, kok uangnya malah dipake beli bento?!"

Dengan santai, tanpa rasa bersalah, dan merasa paling visioner, si bapak ngeles: "Nggak papa Bu, toh liat anak si Rudi di komplek elit sebelah. Dia kasih makan anaknya bento salmon makanya cerdas. Kita harus niru mereka biar anak kita nggak stunting!"

Konyol, kan?

Si bapak lupa satu fakta fundamental: Anak si Rudi di komplek sebelah itu cerdas bukan semata-mata karena nelan salmon tiap hari, tapi karena bapaknya si Rudi bayar sekolah yang bagus, gurunya digaji layak, dan fasilitas belajarnya lengkap. Lha ini? Anaknya dikasih makan bento salmon hari ini, tapi besoknya dikeluarin dari sekolah gara-gara gurunya mogok ngajar karena gajinya dipotong buat beli tu bento!

Memang! Presiden kita konyol suka membandingkan negara kita (lvl 2) dengan negara maju (lvl 10) padahal ada banyak tugas lain yang harus diselesaikan. Ngak salah memang kemajuan itu dimulai dari mimpi dan berani melihat ke atas. Tapi jangan sampai lupa sama jalanan di depan (realitas) yang masih bolong-bolong. Kalau jalan sambil terus-terusan maksa lihat ke atas, yang ada malah jatuh ke lubang.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar